Waktu Popoh berhenti masak, aku baru sadar tidak ada satu pun catatan. Jadi aku duduk dengan timbangan digital, panci tim, dan tumpukan jurnal: menakar ulang, memasak ulang, memilah mana yang sudah diteliti dan mana yang belum. Dan ternyata, supaya sepanci bisa dimakan siapa saja di meja, yang perlu diganti bukan resepnya. Hanya tiga titik. Sisanya, tradisi itu utuh.
Cici Mei, generasi ketiga di dapur Peranakan yang menuliskan ulang 24 resep keluarganya, ditakar ulang di dapur sendiri, tiap klaim dicek ke sumbernya, tiap titik halal diaudit. Aku bukan dokter, makanya yang belum diuji kutulis apa adanya.















